Selasa, 18 Agustus 2015

Jumat, 07 Agustus 2015

IPB




SINCE OF LANGUAGE





























































































Pencinta Alam Penambulai

Warabal, 1 Januari 2015

 

 

GRUP MENJELAJAH PENAMBULAI



1. Desa Warabal

Gambar: Desa Warabal

Kiri-Kanan:
Arif Mangar, Andre Salay, Rahmat Fanorfui, Kasni Mangar, Lapade Salay

Ketua:
Lapade Salay (Izhan Cambar)

Anggota:
-Arif Mangar (Alhvien BDKS)
-Rahmat Fanorfui (Arhvin)
-Andre Salay
-Kasni Mangar (Chyka)

       Dengan cerita-cerita sejarah yang sering kami dengar dari orang tua-tua kami tentang pulau Penambulai, disalah satu cerita mereka mengatakan bahwa ada beberapa peninggalan maupun tempat-tempat bersejarah di Penambulai, tempat-tempat bersejarah tersebut ada yang berada di pantai dan juga di hutan, namun lebih banyaknya di hutan, akan tetapi menurut mereka peninggalan dan tempat-tempat bersejarah tersebut ada beberapa yang sulit bahkan tidak bisah ditemukan pada zaman sekarang ini, "nasib baru bisah ditemui". dari cerita itu membuat kami berkeinginan untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang ada di pulau Penambulai, salah satu yang membuat kami tertarik adalah Kayu Anjing "kayu anjing itu jika dipotong akan mengeluarkan darah" kata Om Dahlan salah satu tokoh sejarah Penambulai, akan tetapi menurut beliau kayu tersebut berada di hutan yang lumayan agak jauh dari desa warabal dan agak sulit untuk di temukan untuk itu kami membatalkan mencari kayu tersebut karena cukup berbahaya untuk kami sebab kami tidak tau selak beluk hutan penambulai, namun tidak mematahkan semangat kami untuk terus menelusuri tempat-tempat itu, untuk langkah awal kami sepakat menelusuri di tempat yang agak mudah dijangkau dan ada satu tempat yang menurut kami mudah untuk ditelusuri yaitu pantai Jarin. kami mencari informasi lagi tentang tempat tersebut dengan mendatangi Om Dahlan beberapa jam kami berbincang-bincang akhirnya kami memutuskan siap untuk menelusuri pantai jarin ...

Warabal, ) 1 januari 2015 kami berangkat dari kampung pukul 06:00 WIT. perjalanan dari kampung ke Jarin menempuh waktu 4-6 jam untuk pejalang kaki orang dewasa itupun kalau yang sudah biasa dan untuk anak seumuran kami butuh waktu kurang lebih 6-8 jam.




2. Perjalanan Dari Kampung Ke Pantai

Gambar: Perjalanan menuju pantai

             kami membawa tiga ekor anjing milik Om Rahul untuk jaga-jaga dari binatang karena banyak babi hutan yang jahat di hutan.




Gambar: Pantai Labasiwai (penambulai)





Gambar: Pantai Ampera (penambulai)




Gambar: Pantai Jerijeri (penambulai)




3. Kawasan Telaga Trikora
Gambar: Telaga Trikora (penambulai)

               Perjalanan kami sangat jauh dan panas terik matahari membuat kami memutuskan untuk ke Jarin lewat hutan agar tidak kepanasan. kami menyebrang telaga ke hutan besar.




4. Kawasan Trikora
Gambar: Kebun Kelapa Pak. Rahul (penambulai)


Gambar: Kebun Kelapa Pak. Rahul (penambulai)

           Kami istirahat sebentar untuk sarapan pagi dengan kelapa muda karena kami tidak membawa persiapan makanan.
setelah selesai makan kami segera bergegas memasuki hutan menuju Jarin.




5. Kawasan Nangan
Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)


Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)


Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)


Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)



Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)


Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)


Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)


Gambar: Kawasan Nangan (penambulai)





6. Kawasan Losin
Gambar: Dusun Sagu milik Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)


Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)




Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)



Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)


Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)


Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)


Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)


Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)

           Chyka, tangannya terpotong parang, darahnya sangat banyak. Alhvien segera mencari obat daun-daun untuk menutupi luka tangannya Chyka.
ketika itu perasaan saya sudah tidak enak (kuatir). menurut saya ini suatu pertanda buruk untuk perjalanan kami, tetapi saya bertekad untuk tidak memberitahukan kepada anggota saya agar kami bisa melanjutkan perjalanan kami. Karena saya tidak mau mengecewakan anggota saya dengan apa yang saya rasakan saat itu,, "ahhh,, mungkin firaat ku saja, semoga tidak terjadi sesuatu pada kami yah Allah" doa saya dalam hati.


Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)



Gambar: Dusun Sagu Pak. Darmon Tahonjabi (penambulai)



Gambar: Kawasan Losin (penambulai)

           Setelah beberapa menit di dusun Sagu kami segera bergegas melanjutkan perjalanan, mengingat perjalanan kami masih sangat jauh.




Gambar: Kawasan Losin (penambulai)

             Kami menemukan salah satu buah di hutan penambulai yang bisa dimakan, namanya buah Aifuy, buah ini kecil tapi banyak warnanya merah tua jika dimakan rasanya manis tapi agak spat-spat. pohon Aifuy berbuah pada musim angin barat dan angin timur.
kami segera mengumpulkan buah-buah Aifuy untuk bekal perjalanan kami, hari sudah semakin siang kami pun sudah mulai rasa lapar, tetapi kami tidak membawa makanan karena kami pikir perjalanan kami hanya beberapa jam saja ternyata sangat lama.


Gambar: Kawasan Losin (penambulai)





7. Kawasan Kampung Lama
Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)

               Setelah berjalan beberapa jam dari dusun Sagu kami sudah tidak menemukan jejak-jejak arah jalan, namun kami terus berjalan hingga kami menemukan sebuah jalan dan kami mengikuti jalan tersebut kami tidak tau sebenarnya jalan tersebut menuju kemana tetapi kami mencoba menelusuri jalan tersebut karena sudah tidak ada jalan lain lagi, setelah jalan setengah jam lebih ternyata jalan tersebut buntuh, jalan tersebut mengarah ke sebuah sungai yang kami tidak kenal sama sekali sungai apa itu. akhirnya kami memutuskan beristirahat sebentar karena kami sudah sangat cape dan lapar, hari sudah menunjukan pukul 12:08 pm WIT.





8. Botol Tua
Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)

             Kami menemukan botol tua peninggalan orang tua-tua dulu (nenek moyang kami) yang sudah tertanam sebagiannya di tanah. ini meyakini kami bahwa waktu dulu nenek moyang kami pernah tinggal di sekitar daerah sini.



Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)

Alhvien sedang beristirahat karena kaki terkilir.



Setelah itu kami segera berjalan mencari jalan keluar menuju pantai, perkiraan kami bahwa kami sedang berada di kawasan hutan kampung lama. Kami jalan beberapa jam namun kami tidak menemukan jejak-jejak arah jalan ke pantai, walau kami sudah mencoba mencari jalan sebelumnya namun tidak ditemukan lagi, tetapi kami terus berusaha mencari jalan keluar karena hari sudah mulai sore, kami mengikuti arah matahari karena pantai berada pada arah timur.



Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)




Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)




Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)

               Kami menemukan sebuah tempat yang luas seprti lapangan, kami mencoba menghampiri lapangan tersebut ternyata banyak tanda kaki binatang entah Rusa atau Babi hutan kami juga tidak tau pasti, tempat ini seperti tempat mereka berpesta atau apalah kami tidak tau, karena tanah hancur dengan tanda kaki mereka. Di tempat ini kami juga menemukan sebuah piring putih di bawah pohon kayu berada pas di tengah-tengah lapangan tersebut. ketika saya sedang foto-foto tiba-tiba hujan gerimis, menurut orang warabal itu tanda tidak baik sehingga kami pun tidak bisa lama-lama di tempat tersebut. Dari tempat itu kami mendengar bunyi, sepertinya bunyi kapal "kata saya" karena sewaktu di pantai kami lihat banyak sekali kapal trol yang sedang merayakan tahun baru di laut pantai Ampera-Jeri-jeri. Cuaca mulai memburuk, kami segera mengikuti bunyi tersebut, kami jalan beberapa jam, bunyi tersebut mengarah ke Wakat (hutan bakau), kami terus mengikuti bunyi tersebut dengan menelusuri wakat, di depan kami terpampang sebuah sungai kami sudah tidak punya pilihan untuk terus mengikuti bunyi itu kami harus bernang menyebrang sungai, setelah menyebrang sungai kami terus menelusuri wakat untuk mengikuti bunyi itu dengan harapan itu adalah bunyi kapal di pantai, kami menelusuri wakat cukup besar dengan menyebrang tiga sungai akhirnya kami menemukan tanah kering dan bunyi itu mengarah ke tanah kering itu, kami sudah sangat senang kami pikir itu hutan untuk menuju ke pantai ternyata setelah kami telusuri hutan tersebut sangat kecil karena di kelilingi oleh hutan bakau dan bunyi itu masih ada dan mengarah ke hutan bakau berikutnya dan harus menyebrang sungai lagi sedangkan hari sudah sangat sore jam sudah menunjukan pukul 05:42 pm WIT. akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di hutan kecil tersebut, kami sudah sangat cape, lapar dan haus karena kami sudah berjalan satu hari penuh, kami mencari bia-bia (langan) untuk kami bakar dan makan.
Alhvien dan Chyka segera menggali sumur kecil, saya membuat api, Rahmat dan Andre pergi ke wakat mencari langan.




Gambar: Langan (bia-bia)

Ini makan malam kami


Gambar: Air


Malam itu sangat dingin karena pakaian kami basah semua dan nyamuk sangat banyak walaupun kami sudah buat api. malam itu saya tidak bisa tidur karena lapar, dingin dan banyak nyamuk, saya berpikir kenapa nasib kami harus seperti ini, saya sangat ingat Ibu saya. banyak hal yang saya pikirkan malam itu salah satunya bagaimana perjalanan esok nanti tiba-tiba kami mendengar suara orang teriakan satu kali ternyata mungkin itu makhluk halus penghuni hutan karena bertepan malam itu malam Jumat.
Ketika pagi hari kami melakukan perundingan, waktu itu kami punya dua pilihan untuk mencari jalan keluar.
1. Mencari jalan sebelumnya, yang kami lewati pada awal sebelum tersesat
2. Mengikuti arah matahari
setelah selesai perundingan Alhvien berpendapat bahwa ada baiknya kami mengikuti arah matahari dan kami setuju walaupun kami tidak terlalu yakin kalau akan menemukan jalan keluar, tetapi apa salahnya mencoba.
kami segera pergi meninggalkan hutan kecil itu dan memasuki hutan bakau, setelah beberapa jam perjalanan kami menemukan sebuah hutan, kami menelusuri hutan tersebut dan ternyata hutan terebut besar, kami jalan dan terus berjalan dengan penuh semangat, setelah berjalan beberapa jam tiba-tiba kami mendengar seperti ada yang memukul kayu dan bunyinya sangat keras dan berulang-ulang saya langsung membalas memukul kayu bunyi itu tetap terus berbunyi dengan keras kami lari menuju bunyi tersebut sambil memukul kayu ternyata bunyi itu Pak. Rahul sedang memukul kayu agar kami bisa mendengar dan mengikuti bunyi itu, karena beliau sedang mencari kami. akhirnya kami bisah menemukan jalan keluar dari hutan.
kami ditemukan pukul 09:57 am WIT. malam itu orang-orang sibuk mencari kami di hutan namun mereka tidak ketemu kami.
kami langsung mengikuti Pak. Rahul menuju pantai.




9. Kawasan Kampung Lama
Gambar: Alhvien lemas


Gambar: Kawasan Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Chyka



Gambar: Izhan Cambar






10. Perjalan Pulang
Gambar: Pantai Kampung Lama (penambulai)


Gambar: Pantai Kampung Lama (penambulai)


Gambar: Pantai Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Pantai Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Pantai Kampung Lama (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Losin (penambulai)



Gambar: Pantai Nangan (penambulai)



Gambar: Pantai Nangan (penambulai)



Gambar: Pantai Nangan (penambulai)




Gambar: Pantai Nangan (penambulai)



Gambar: Pantai Trikora (penambulai)




Gambar: Pantai Trikora (penambulai)





11. Kebun Kelapa Saya
Gambar: Pantai Trikora (penambulai)



Gambar: Pantai Trikora (penambulai)



Gambar: Pantai Trikora (penambulai)



Gambar: Pantai Warabal (penambulai)



Gambar: Pantai Warabal (penambulai)



Walaupun kami tidak berhasil sampai di tempat tujuan kami namun sangat banyak pengalaman yang kami dapat dari perjalanan kami itu. kami bisa merasakan langsung bagaimana tidak makan satu hari satu malam, bagaimana hidup hutan yang suasananya masih sangat alami dan masih banyak lagi yang saya tidak sempat sampaikan disini.
Saya mohon maaf jika ada kekurangan dalam cerita saya ini, saya hanya mencoba berbagi cerita pengalaman saya kepada para pembaca sekalian
Semoga ini bisa jadi salah satu pengalaman untuk kita semua dalam Penjelajahan Hutan.
TERIMA KASIH

THE END

 Untuk Pembaca:

Jika ada kesalahan dalam penulisan, penempatan kata, tanda baca dan nama tempat, pada cerita saya ini, mohon berikan sarannya. agar saya memperbaikinya






By' Lapade Salay Fak. Perikanan


Sumber: Izhan IPB

makassar, 08 Agustus 2015






Terima kasih telah mengunjungi blog saya